Minggu, 04 April 2010

waisakk,,

wah,, ntar lagi waisak nehh,, bulan mei...
mantep2.. Xd

Bayak acara loh di v. dhammadipa sby :)
Jgn lupa datng ya ^^

Sabtu, 03 April 2010

Ilmuwan(gila)telah menemukan Pembangkit Listrik Tenaga Sex (PLTS)!!

Sekarang ini, didunia sudah banyak orang mulai mencari sumber energi lain, selain dari minyak bumi, panas bumi, air, nuklir dan sebagainya. Banyak yg sudah berhasil juga membantu umat manusia dalam menjalankan kehidupannya.

Tapi banyak hal kecil yg terlewati oleh kita, padahal hal itu sebenarnya merupakan dasar dari kehidupan manusia sehari-hari, yaitu sex. Siapa sih yang gak tau sex, selain anak kecil dan orang yg belom tau ? Tiap orang pasti tau, dan pernah melakukannya, entah itu dengan hubungan seksual lawan jenis, sesama jenis atau sendirian alias masturbasi.

Pada artikel kali ini, kita akan mencoba menguraikan beberapa fakta-fakta yang mengejutkan mengenai sex ini. Data dan angka yang ada disini adalah benar, dan hasil dari belajar, baca dan nanya orang ( angket ). Jadi lumayan bisa dipercaya.

Sebelumnya kita akan menguraikan fakta-fakta yg ada mengenai sex ini.

Sex sebagai sumber Energi

1. Fakta yang ada

Usia produktif laki-laki adalah umur 15 - 65 tahun. Yaitu dalam hidupnya 50 tahun adalah masa produktif.

Seberapa banyak laki-laki melakukan ejakulasi ( crut ), kita bisa ambil pukul rata. Anggap 1 minggu seorang laki-laki melakukan 4 kali ejakulasi ( entah dari hubungan seks atau cuma onani saja ). Jadi dalam kurun waktu 50 tahun itu, akan terjadi :

Fakta #1

Diketahui :
1 minggu = 4 kali ejakulasi
1 tahun = 52 minggu

Dicari :
Berapa ejakulasi dalam 50 tahun ?

50 tahun = 50 x 52 minggu x 4 ejakulasi =
10.400 ejakulasi dalam 50 thn / orang
Gila ya! 10.400 ejakulasi, banyak banget tuh.
Sekarang kita akan melihat, seberapa banyak sperma yang keluar per ejakulasi.
Menurut angket / jejak pendapat, dalam 1 kali ejakulasi rata-rata terbuang sebanyak 2 sendok makan sperma. Jadi kita bisa hitung sebagai berikut :

Fakta #2

Diketahui :
1 sendok makan = 3 ml
50 tahun = 10.400 ejakulasi

Dicari :
Berapa liter sperma yg terbuang dalam 50 tahun ?

10.400 ejakulasi = 10.400 x 3 ml = 31.200 ml =
31,2 liter sperma dalam 50 thn / orang

31,2 liter itu sebanyak apa si sebenarnya ?? Banyak loh, biar lebih jelas kita coba bandingkan dengan hal yg ada di kehidupan sehari-hari, yaitu :
hampir 2 galon dispenser buat minum di rumah kamu.
1 ml sperma mengandung 120 juta calon anak, jadi misalnya perorang kita hitung lagi dengan fakta-fakta yg ada diatas, terus kita bandingkan dengan penduduk bumi, akan kita lihat sebagai berikut :

Fakta #3

Diketahui :
Penduduk bumi : 6 milyar orang
Calon anak dalam 1 ml sperma = 120 juta
1 tahun orang mengeluarkan 31.200 ml sperma

Dicari :
Perbandingan 1 orang dalam masa produktif dengan penduduk dunia.

31.200 ml x 120.000.000 = 3.744.000.000.000 calon anak, yaitu sebanding dengan 624 kali penduduk bumi pada tahun 2000

Gila, untung dari sekian ratus juta itu, cuma 1 doang yang bakal jadi manusia. Sekarang kita sudah mengetahui beberapa fakta dari hal tersebut, kita akan mencoba melihat dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari dan melihat dari segi ekonomis dan ergonomisnya.

Seorang laki-laki, setelah ejakulasi, pasti dibutuhkan tissue buat ngelapnya. Menurut survey dan sensus serta nanya sama orang-orang, dibutuhkan kurang lebih 4 helai tissue wc untuk mengelap sperma yg terbuang hasil 1 kali ejakulasi. Kita sekarang akan melihat, berapa banyak tissue yg terpakai dalam jangka waktu 50 tahun masa produktif tersebut.

Fakta #4

Diketahui :
50 tahun = 10.400 ejakulasi
1 ejakulasi butuh 4 helai tissue
1 roll kertas wc = 200 helai
1 pack kertas wc isi 8 roll = Rp.15.000

Dicari :
Berapa roll yang dibutuhkan dalam waktu produktif 50 thn itu dan jumlah uang yg dikeluarkan untuk semuanya ?

10.400 x 4 = 41.600 helai
41.600 / 200 = 208 roll kertas wc
1 roll = Rp.1875 ; 208 roll = Rp.1875 x 208 = Rp.390.000

Apa yang bisa kita lakukan dengan uang Rp.390.000 itu dalam kehidupan sehari-hari ? Hmmm...misalkan biaya parkir.
Anggap 1 jam parkir di gedung parkir seharga Rp.1500. Jadi dengan uang Rp.390.000 itu kamu bisa parkir selama 260 jam non stop alias 10,8 hari penuh!
Menarik bukan ? Sekarang kita liat halaman berikutnya untuk mengetahui apakah ada keuntungan dibalik fakta-fakta yang telah kita dapat diatas.

2. Penerapannya

Kita telah mengetahui fakta-fakta yang bisa dihitung dan dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari. Tapi apakah kita bisa mendapatkan sesuatu yang berguna dari fakta tersebut ? Hmm....bagaimana kalo listrik ? Listrik untuk memenuhi kebutuhan dalam hidup sehari-hari yang memerlukan biaya besar, apakah bisa digantikan dengan "tenaga manusia" itu ?
Kalori yang di keluarkan bisa jadi setara dengan latihan body language. Belum lagi anda akan membakar sekitar 300 kalori ketika bercinta (termasuk foreplay, orgasme, dan afterplay). Hasilnya, pantat kencang, lengan kuat dan perut rata. Semua itu tidak membutuhkan kerja keras seperti yang anda bayangkan. Ditambah lagi lemak yang menyebalkan pun berkurang. Jadi perlakukan seks seperti olah raga rutin seperti lari atau berenang.
Sumber : http://www.pernikahan.com/rubrik.html?news_id=607

Berapa kalori yang dikeluarkan oleh pasangan muda ( 18 - 30 thn ) dengan berat badan standar yang melakukan hubungan seks selama 40 menit ?

Perhitungan :

Kita anggap berat badan standar cowo adalah 70 Kg dan berat badan standar cewe adalah 50 kg.
Menurut sumber diatas, aktivitas seks bisa dianggap seperti setara dengan latihan body language, berarti :
- Cowo : 9kal/menit x 40 menit = 360kalori
- Cewe : 8kal/menit x 40 menit = 320 kalori
# Table berapa kalori yang dikeluarkan dalam suatu aktivitas olahraga bisa kamu download di http://www.gizi.net/pedoman-gizi/download/PGI-5.doc

Apabila dijumlah, maka dari keduanya akan menghasilkan sebanyak 680 kalori per aktivitas sex ( 40 menit ).
Menurut table converter 1 kWh = 860.000 kalori. Setelah dihitung-hitung, akan keluar angka 0.79Wh untuk 680 kalori.
Pasangan yang melakukan hubungan seks selama 40 menit akan menghasilkan setara 0,79 Wh.

Menurut pln.co.id :
Contoh pemakaian listrik rumah tangga sedang Rumah Tangga Dalam Menghemat Pemakaian Energi Listrik
1 Seterika 350 watt, 2 jam/hari 0,70 kWh/hari
1 Pompa air 150 watt, 3 jam/hari 0,45 kWh/hari
1 Kulkas sedang 100 watt, 6 jam/hari : 0,60 kWh/hari
1 TV 20" 110 watt, 6 jam/hari 0,66 kWh/hari
1 Rice cooker 300 watt, 2 jam/hari: 0,60 kWh/hari
6 Lampu hemat energi 20 watt, 6 jam/hari: 0,72 kWh/hari
4 Lampu hemat energi 10 watt, 6 jam/hari 0,24 kWh/hari
Jumlah kebutuhan listrik perhari 3,91 kWh
Jumlah Kebutuhan listrik per bulan 3,91 kWh x 30 = 117,30 kWh

Kita ambil contoh untuk kebutuhan sebuah TV 20" 110 watt yang nyala selama 6 jam /hari dibutuhkan sebanyak 0,66kWh, yaitu kira-kira setara dengan 835,5 pasangan yang melakukan hubungan seks selama 40 menit.

Gila juga ya, apakah dari situ bisa dibuat lapangan kerja ?
Apabila hari kerja adalah Senin - Jumat dari 09.00 - 16.00, dengan sebanyak 100 pasangan sebagai pekerja tetap, berarti akan didapat jumlah sebagai berikut :
1 hari dari pukul 09.00 - 16.00 akan didapat sebanyak 10,5 kali aktivitas seks @ 40 menit dari 1 pasang. Karena hal itu mungkin akan capai sekali, maka dihitung dengan istirahat makan siang dsbnya, kita potong menjadi 8 kali aktivitas seks per pasangan.
Apabila dalam 1 hari kerja tersebut ada 100 pasangan yang melakukan pekerjaan itu, maka akan terjadi 800 aktivitas seks dengan jumlah energi yang akan dihasilkan adalah :
800 x 0,79Wh = 0,63kWh

Menurut table diatas, 1 hari produksi berarti hanya bisa menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan sebuah kulkas, rice cooker atau TV.
Tapi apabila 1 bulan kerja, yaitu sebanyak 20 hari kerja, akan menghasilkan
20 x 0,63kWh = 12,6 kWh
12,6 kWh ini hanya setara dengan kurang lebih kebutuhan listrik rumah tangga selama 3,2 hari.
Jadi apakah energi yang berasal dari seks ini akan bisa digunakan umat manusia untuk membantu kelangsungan hidupnya ? Kalau setelah dihitung sedemikian rupa hanya bisa memenuhi kebutuhan 1 rumah tangga selama 3,2 hari ?

Seks adalah kebutuhan dasar tiap manusia, jadi apabila suatu saat ditemukan suatu penemuan yang bisa merealisasikan pengandaian MBDC ini, yaitu dengan mengubah energi yang dikeluarkan dari kegiatan seks menjadi listrik, maka tidak mungkin tidak terjadi hal yang sudah dijabarkan diatas ini. Diatas hanya diandaikan dengan 100 pasangan, tapi bagaimana dengan 1000 pasangan ? 100.000....satu juta...sepuluh juta pasangan yang menggunakan sistem energi seks ini ? Ente hitung saja sendiri...

sumber: kaskus

aku harus update ini blog

wah,, spertinya peringkatku turun ya di internet,, hehehee :)
ya sudhlahh,,, semua nya gk kekal xD
just try harder :)

Jumat, 02 April 2010

web brush yang bagus..

sbenarnya bingung mo ngetik apa,, heheheee :)
mo sharing tempat download2 brush bgs nehh ^^
ini dia tempat :)

http://www.brusheezy.com/brushes

Rabu, 31 Maret 2010

Universitas lagi

universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau
universitas surabaya kampus hijau

ayoook kunjungin blog ini :D        

Selasa, 30 Maret 2010

Pemanasan Global dan Respon Indonesia


Pemanasan global adalah nyata adanya dan sedang terjadi saat ini. Menjadi salah satu negara yang akan terkena
dampak pemanasan global, Indonesia didesak untuk bergerak bersama-sama untuk menanggulangi bahaya dari
dampak tersebut. Tahun ini IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) atau panel ilmiah tentang perubahan iklim
mengeluarkan laporan dari tiga kelompok kerja. Laporan tersebut secara jelas melaporkan “tidak ada keraguan akan
masalah perubahan iklim; memastikan bukti-bukti dari perubahan iklim dengan yakin; skala dan percepatan dari
dampaknya terhadap kehidupan manusia dan ekosistem akan sangat tinggi; menghindari perubahan iklim ekstrem dapat
dilakukan dengan bantuan teknologi dan ekonomi namun waktu untuk bertindak tidak banyak”

Dengan menggunakan model dari IPCC, Indonesia akan mengalami kenaikan dari temperatur rata-rata dari 0.1 sampai
0.3ºC per dekade. Kenaikan suhu ini akan berdampak pada iklim yang mempengaruhi manusia dan lingkungan
sekitarnya, seperti kenaikan permukaan air laut dan kenaikan intensitas dan frekuensi dari hujan, badai tropis, serta
kekeringan.

Dari kenaikan permukaan air laut dari 8-30 cm, sebagai negara kepulauan, 2000 pulau-pulau Indonesia diramalkan akan
tenggelam atau hilang. Kehilangan pulau-pulau tersebut merupakan ancaman dari batas dan keamanan negara. Seperti
yang dilaporkan oleh WGII (Working Group II-Kelompok Kerja II), kenaikan permukaan air laut akan mengakibatkan 30 juta
orang yang hidup di ekosistem pantai mengungsi dan Indonesia akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Hujan akan diprediksikan menjadi lebih sering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Pergeseran musim tersebut
akan menjadi ancaman terbesar bagi sektor pertanian di Pulau Jawa dan Bali, penyebab turunnya 7-18% produksi beras.
Perubahan pola iklim akan menambah daftar panjang ancaman bagi Indonesia, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan,
serta badai tropis. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional Indonesia, dalam kurun waktu 2003-2005 bencana
alam yang terkait dengan cuaca mencapai 1,429 kasus atau 53.3% dari total bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Di lain pihak, ketika musim kering melanda, bangsa ini menghadapi kemungkinan kekeringan yang berkepanjangan,
untuk sektor kehutanan titik api akan semakin parah. Pada bulan September 2006 sendiri tercatat 26,561 titik api yang
merupakan angka tertinggi sejak Agustus 1997 ketika sepanjang tahun 1997 tersebut tercatat “hanya” 37,938 titik api.

Tantangan buat Indonesia sekarang adalah memiliki mekanisme yang responsif untuk mengatasi masalah perubahan
iklim secara tepat dan efektif. Tindakan pencegahan di level nasional dan lokal perlu dilaksanakan segera bersama-sama
dengan inisiatif Internasional.

Sebagai negara yang meratifikasi Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC)  pada tahun 1994 dan Protokol Kyoto pada tahun
2004 yang diadopsi oleh UU no 17/2004, Indonesia telah melangkah beberapa langkah dalam mengatasi masalah
perubahan iklim ini.

Sebuah contoh penting adalah dibentuknya institusi nasional untuk mengatur Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB).
MPB dapat mengurangi emisi negara ini sampai 23-24 ton per tahun jika difungsikan secara efektif dan fungsional
(berdasarkan studi strategi nasional 2001/02 untuk menganalisis pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor energi
dan sektor kehutanan).

Namun bagi Indonesia masih diperlukan strategi yang implementatif dan tindakan yang nyata di beberapa sektor penting,
karena kenyataannya sekarang belum ada koodinasi antar sektor yang komprehensif untuk selaras dengan Konvensi
Perubahan Iklim dalam mengatasi masalah tersebut.

Sebagai salah satu negara yang rentan akan perubahan iklim ekstrem, Indonesia perlu melakukan pengkajian dan
pemetaan akan kerentanan dan adaptasi dari perubahan iklim agar tercipta penanganan yang efektif untuk masalah
tersebut.

Berikutnya adalah kebutuhan mendesak untuk mengarusutamakan strategi adaptasi bagi strategi pembangunan dan
perencanaan pembangunan di sektor lokal maupun nasional. Tanpa prencanaan ini Indonesia akan mengalami
kegagalan dalam pembangunan yang diakibatkan oleh bencana lingkungan.

Di bagian mitigasi, Indonesia perlu mendesak negara-negara maju untuk memangkas emisi gas rumah kaca mereka jika
masyarakat global ingin tetap berada di bawah kenaikan 2ºC, di mana Bumi masih akan mampu beradaptasi dari
kenaikan temperatur tersebut.

Kelompok Kerja III dari IPCC menyatakan bahwa PDB (Pendapatan Domestik Bruto) akan dipotong 0.12% agar level CO2
dunia dapat bertahan di bawah level paling rendah sampai tahun 2030 sedangkan diperkirakan total keseluruhannya
sekitar 3% sampai tahun yang sama. Dalam reviewnya, Sir Nicholas Stern mengingatkan kembali bahwa dunia akan
mengeluarkan 5-20% dari PDB-nya dan bahkan lebih besar ketika tidak ada tindakan yang dilakukan dari sekarang untuk
mencegah perubahan iklim ekstrim.

Untuk Indonesia, ‘sumbangsih’ emisi gas rumah kaca dalam negri semakin besar, terutama emisi dari sektor deforestasi
termasuk konversi lahan gambut dan hutan serta kebakaran hutan jika semuanya dimasukkan hitungan. Oleh karena itu
beberapa organisasi di Indonesia meyakini bahwa kita adalah penyumbang emisi gas rumah kaca ketiga terbesar di
dunia.

Namun demikian terbuka lebar kesempatan bagi Indonesia dan negara-negara pemilik hutan lainnya untuk berkontribusi
secara positif dalam mengurangi emisi di sektor kehutanan. Konvensi Perubahan Iklim yang akan digelar di Bali
Desember 2007 direncanakan untuk membahas mekanisme insentif REDD (Reducing Emission from Deforestation in
Developing Countries) yang akan diberikan kepada negara-negara Non-Annex I yang menjaga hutannya.

Indonesia memiliki kesempatan baik untuk membawa posisi yang kuat bagi mekanisme insentif REDD dengan
menciptakan pengukuran dan kebijakan untuk mengurangi dan memonitor laju deforestasi. Indonesia juga perlu
mendesak negosiasi dengan kelompok-kelompok negara lain agar mendapatkan dukungan di sisi REDD.

Jika langkah-langkah adaptasi dan pengurangan emisi dari sektor kehutanan dapat dipersiapakan dan
diimplementasikan dengan serius maka dapat menjadi sinyal positif bagi masyarakat bahwa Bangsa Indonesia siap
menghadapi kemungkinan terburuk dari perubahan iklim.


* Fitrian Ardiansyah (Program Director of Climate & Energy, WWF-Indonesia)
sumber: http://www.wwf.or.id/index.php?fuseaction=news.detail&language=i&id=NWS1187285558&print=1

Senin, 29 Maret 2010

Butuh langkah kecil untuk memulai sesuatu yang besar

Kurangi Kantong Plastik

Go to Cause
Posted By: Thrio Haryanto

Butuh langkah kecil untuk memulai sesuatu yang besar

Di beberapa toko ritel, mulai bisa dijumpai kantong plastik yang ramah lingkungan. Atau menjual kantong belanja berbahan kain. Ada juga toko yang menjual satu kantong plastik ukuran layar televisi 21 inchi dengan harga lebih dari 10 ribu rupiah.

Pakar Manajemen Sampah, Sri Bebassari mengatakan, berbagai riset terus dilakukan untuk membuat kantong plastik ramah lingkungan.

“Sebetulnya ada dua macam, ada bio-degradable dan oxium. Bio-degradable ini dibuat dari singkong. Singkong kan banyak di Indonesia. Kalau yang oxium ini ada penambahan oksidasi sehingga terurai lebih cepat. Indomaret pakai oxium, Century oxium, Kemchick pakai yang dari singkong ya. Di sini kan ditulis ada yang 1000 tahun, ada yang 500 tahun, tapi yang ini bisa 24 bulan, berarti kan 2 tahun,” katanya.

Kehadiran kantong plastik ramah lingkungan diyakini bisa ikut mendidik masyarakat untuk mengurangi penggunanaan plastik. Artinya, kata Sri Bebassari, produsen ikut mendidik konsumen.

Di negara-negara maju seperti Jepang dan Eropa disediakan dropping box tempat mengumpulkan kemasan-kemasan plastik yang sudah tidak terpakai. Tapi belum di Indonesia, yang memilah sampah pun belum dilakukan secara serius.

Rasanya kita perlu banyak belajar dari waga Depok, Bibong Widyarti, yang sudah 5 tahun terakhir menjalani gaya hidup non-plastik.

“Yang saya jalanin sehari-hari kalau belanja saya bawa tas sendiri dari rumah. Bukan tas plastik. Trus saya kurangi konsumsi produk-produk kecil yang memakai kemasan plastik. Saya mulai juga bawa kardus untuk barang yang banyak. Memang agak repot,” katanya.

Kebiasaan ini ditiru Bibong dari keluarganya. Semula Bibong menerima banyak penolakan lantaran membawa tas sendiri setiap kali belanja.

Butuh langkah kecil untuk memulai sesuatu yang besar. Bibong sudah melakukannya. Begitu juga Maizir dan Tamanto Fajar.

PR yang tersisa adalah memastikan produsen bertanggungjawab atas sampah plastik yang mereka buat, dan akibatnya harus ditanggung bumi kita bersama.
(Source: http://www.greenradio.fm/index.php/green-living/waste/recycle/2007-bahaya-sampah-plastik-selesai)

So,, kenapa tidak kita mulai dari sekarang ??
It's for green world...

powered by: universitas surabaya kampus hijau